Short Story of August

Bukan aku tak menyadari
bahwa tiada kekecewaan di perpisahan
aku pun menyesal di sini
namun penyesalan selalu terlambat
juga permohonan maaf.
Aku berdiri di sini
menatap langit yang jadi merah
tiba-tiba, aku terpaku
pasir
laut
camar
dan ombak,
kali ini tak bisa lagi menentramkan
batin pengecut ini.
Aku kecap air mata di sini
dan biasanya mengiringi lagu-lagu
kita. -Sayangnya bukan air mata kita-
diah, ‘pabila kenangan mengoyak hatimu
hingga jadi ribuan serpih
maafkan aku. -sayangnya bukan mau kita-

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Yang Kalah

arief

Father of Three, Suaminya Djati, Penggemar Kopi & Vespa, Juventini Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: