Sebuah Introspeksi

Ini bukan tentang cara-cara meningkatkan omset atau bagaimana kamu memajukan usaha kamu. Kali ini aku akan berbicara tentang INTROSPEKSI.

Ya, introspeksi. aku menulis ini bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk diri sendiri.

Pernahkah kamu berpikir, untuk apa kita bekerja? Untuk apa kita capek-capek lembur?

Untuk apa kita bangun pagi pulang malam banting tulang?

Ada kemungkinan jawaban kamu pasti UANG.

Oke, jika kamu menginginkan uang, ketika kamu telah mendapatkanya, apa yang kamu lakukan?

Membeli apapun yang kamu inginkan?

Oke, belilah motor, handphone terbaru, jika kurang belilah mobil, jika masih kurang mungkin kamu ingin menambah rumah. Lalu apa?
Setelah kamu melakukan itu semua lalu apa? Apakah kamu puas? Apa kamu bahagia?

Jelas, tapi tahukah kamu, kebahagiaan dan kepuasan yang kamu dapat dengan membeli dengan uang jerih payah kamu hanya SEMENTARA.

 

Karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas akan sesuatu.

Selalu menginginkan yang lebih dan lebih. Ingin lebih banyak uang, ingin lebih banyak rumah, lebih, lebih dan lebih.

Sadarkah kamu, jika kamu mengejar uang itu ibarat kamu sedang haus, namun meminum air laut?Semakin kamu meminumnya, kamu akan merasa haus. Tidak akan ada hentinya.

Pernahkah kamu mendengar seorang Kakek yang dengan suka rela membagikan nasi bungkus bagi orang yang membutuhkan? Padahal jika kamu tahu, Kakek itu bukanlah orang yang kaya raya. Uang yang ia gunakan untuk membeli nasi bungkuspun berasal dari hasil ia mengajar mengaji. Apa ada yang menyuruhnya? Apa dia digaji? Tidak. Tapi beliau dengan suka rela melakukan itu.

Coba kita renungkan, Apakah kita benar-benar bahagia jika kita bisa membeli apapun yang kita sukai , sementara banyak orang di sekitar kita yang masih membutuhkan bantuan kita?

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Perbedaan MLM Murni dengan Money Game, Skema Ponzi, atau Skema Piramida

Apakah kita bisa benar-benar bahagia jika kita tahu betul ada orang-orang yang hidupnya masih kekurangan di sekitar kita?

Jika kamu masih bisa bahagia dengan keadaan seperti itu, apakah SEMURAH itu kebahagiaan kamu?

Bukankah semakin kita membahagiakan orang lain ,semakin nyata kebermanfaatan kita di dunia ini. Jadi tidak seperti seonggok daging yang bisa melihat, mendengar, berjalan lalu mati begitu saja tanpa memberikan sesuatu?

Aku percaya, pasti di antara kamu ada yang sudah merasakan keajaiban sedekah. Kita memberi sesuatu nih, tapi anehnya, justru rezeki yang kita dapat bertambah. Allah memang Maha Baik.

Sekali lagi, aku tidak sedang menjadi ustad disini, aku hanya ingin berbagi introspeksi yang mungkin kadang orang lupakan.

BANTULAH ORANG LAIN DAHULU, BARULAH ALLAH AKAN MENOLONG ANDA

Sudahkah kamu membantu orang lain? Setelah kamu membaca ini, aku sangat berharap kita dapat membantu orang-orang disekitar kita, bisa dimulai dengan hal-hal yang kecil. Seperti jika karyawan kamu sedang mengangkat banyak bawaan, bantulah membawanya, atau jika kita mempunyai makanan, tawarkanlah kepada orang-orang disekitar kamu, yang sering emakku tanamkan sejak kecil, jika melihat sampah saat kita berjalan, pungutlah sambil membaca basmallah lalu buanglah di tempatnya.

Atau yang paling bisa kamu lakukan untuk mengawali pagi yang cerah ini, tersenyumlah dan bawalah semangat untuk orang-orang dilingkungan kerja kamu.

Mungkin kamu bisa mulai tersenyum sekarang
🙂

TETAP SEMANGAT!

 

arief

Father of Three, Suaminya Djati, Penggemar Kopi & Vespa, Juventini Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: