REDUP

seorang gadis menangis
ketika terpaksa menjadi yang kedua di hati
lantas godaan bertubi-tubi menyinggahi
hati sang raja berpermaisuri

dia tak bisa membenci karena cintanya begitu besar
dan sang raja telah menasbihkan diri menjaga negeri
ah, tragedi dan ironi
cinta yang jadi lumut di atas batu

mestinya sedari dulu cinta itu disudahi
bukan dibiarkan menjadi seperti ini
terlalu besar untuk digoyahkan
terlalu berakar untuk dicabutkan

dan gadis itu menangis sendiri
cahayanya meredup

:cintanya tetap ada, bagai lentera tanpa minyak, cuma bara.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Sudah Biasa... Maafkan Aku...

arief

Father of Three, Suaminya Djati, Penggemar Kopi & Vespa, Juventini Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: