Pilkada Dalam Cangkir Kopi

Tak ada ruang yang senyaman warung kopi membincangkan berbagai hal, dari membahas duniawi sampai sesuatu yang tak pernah diketahui sekalipun. Baik itu informasi pusat dunia sampai informasi bawah pusat. Segala sesuatu bisa menjadi topik panas, sepanas kopi yang baru diseduh, sedingin tatapan sayu si dare (pelayan warung kopi), selama juru parkir yang tak pernah usai hingga warung kopi tutup memarkirkan kendaraan pengunjung yang datang silih berganti.

Seperti pertemuan pebisnis elit sedang membahas mega proyek. Pengunjung mengelompok antara empat sampai lima orang bahkan lebih. Masing-masing memiliki topik pembicaraan.

Hot Topic yang menjadi perbincangan kami kali ini adalah pemilihan walikota yang tidak lama lagi akan diselenggarakan. Seluruh lapisan masyarakat akan ikut serta dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan sekali dalam lima tahun. pilkabe, eh, pilkada maksudku, selalu menjadi isu yang kian seksi untuk diperbincangkan.

Sebagai pemuda yang selalu mengikuti Trend Topik atau isu yang musiman ini, tentunya ingin sekali mengambil bagian membicarakan isu yang kian vulgar. Meskipun sesekali mencampur adukkan perempuan seksi dalam perbincangan.

Ah, aku rasa tidak masalah. Karena keduanya sama-sama kebutuhan. Perempuan kebutuhan biologis, toh politik juga tidak bisa dipisahkan dari perempuan seksi untuk mengumpulkan massa, dan tidak sedikit politikus juga membutuhkan wanita. Entah itu sebagai pemanis atau mungkin sebagai pemuas setelahnya, ya, setelahnya, mungkin. Hampir semua daerah, kampanye pemilihan kepala daerah memperdayakan perempuan seksi.

Cara yang sangat biasa bahkan kuno dan sudah menyampur dalam cangkir pilkada. Tujuannya agar massa yang berkumpul lebih ramai, dan si calon berharap dalam menyampaikan visi misi lebih banyak yang mendengarkan. Namun tidak bisa dipungkiri, massa yang datang pada saat kampanye yang biasanya digelar di lapangan terbuka yang luas atau stadion sepak bola, hanya ingin melihat wanita seksi yang sekaligus menjadi orator kampanye si calon. Biasanya seorang penyanyi terkenal dari ibu kota. nenekku menyebutnya artis. Katanya.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kang Maman dan Novel Re-nya

Ya, lihat orang-orang berkumpul di lapangan. Inilah cara yang kuno dilakukan para politikus pendahulunya untuk mengumpulkan massa. Menghadirkan penyanyi atau artis yang sudah terkenal. Berbusana seksi. Tak pelak dengan panggung yang tak luput dari ornamen pendukung kampanye. Dihiasi dengan baliho bergambar si calon. Serta hampir seluruh sisi lapangan dipajang spanduk dan bendera partai pendukung. Setelahnya bubar meninggalkan sampah. Tidak ingat lagi isi kampanye, lupa visi misi yang disampaikan oleh si calon, serta masa bodoh dengan rutinitas kampanye yang beberapa saat terlibat. Yang dibawa hanyalah cerita tentang aksi artis. Aksi goyang yang aneh itu. Aksi goyang perkakas pekerja bangunan. Ada juga aksi binatang yang dipertontonkan. Aneh bukan.
*
Kopi mulai dingin, aku masih menjadi pendengar setia, belum ada kata yang keluar dari mulutku, walaupun hanya sekedar merespon “ya” atau “tidak”, bahkan setuju tentang pemilihan kepala daerah. Keretek masih kupit dengan jari telunjuk dan tengahku yang kukunya sudah menguning oleh nikotin. Api menyala remang karena beberapa saat kubiarkan bercengkerama dengan angin. Bibir cangkir masih ingin mengecup bibirku yang hitam tebal.

Membahas tentang petarung yang akan berlaga di pilkada, pakaian wajib yang harus dikenakan oleh para petarung adalah partai. Tidak mungkin petarung yang akan berlaga namun tidak mengenakan sehelai pakaian. meskipun sudah ada aturan yang memeperbolehkan bakal petarung untuk telanjang. Independen. Bagaimana mungkin bisa mengumpulkan KTP dengan cara yang benar, jika dihitung dari sekarang waktu untuk bertarung tinggal sebentar. Melihat waktu pilkada yang tak lama lagi. Dan sudah tentu warna pakaian resmi telah membidik bakal petarung.

Tidak masalah dengan warna pakaian yang akan dikenakan oleh para petarung nantinya, yang kutahu warna pakaian yang baik dan patut dikenakan oleh para petarung adalah pakaian bewarna pink. Karena warna pink adalah simbol cinta, mencintai, kecintaan. Dengan warna ini petarung menjadi perasa dan merasara. Sederhananya memiliki empati yang tinggi terhadap massa. Tidak ada yang lebih dari cinta dalam hidup ini. Cinta pada sesama, mencintai ciptaan-Nya dan kecintaannya pada Kota Khatulistiwa ini. Jika cinta yang menjadi landasan, maka jarak bukan pembatas, apalagi hanya soal ras.“Wuidih… seperti penyair ulung saja, belagak ngomongin cinta.”

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Para Kepala Sekolah Mengapresiasi Pelajar Melayu Serumpun

Eh! siapapun yang memantapkan diri menjadi petarung. Bertarunglah dengan jujur. Ibarat rok maknyah, Kota Khatulistiwa ini telah ditambal-sulam oleh pemimpin terdahulu. Bahkan beberapa bagian sirah di berbagai sisi. Rok Maknyah ini butuh tukang jahit pacak. Tukang jahit yang pacak pasti tahu menjahit yang benar, merenovasi belahan pinggir rok yang betas, membenarkan resleting bagian belakang yang selama ini belahan pantat maknyah selalu kelihatan saat sedang duduk. Tukang jahit yang siap mengomandoi perang dengan jarum dan gunting yang dimilikinya.

“Tukang jaet haros bise gunekan peniti untok jaet kalok keadaan rok maknyah tuh dalam keadaan genting.”

Dengan nada lantang, Long Kasem bersuara. , Long Kasem sama denganku, sejak pembiacaraan tentang pilkada dimulai, membisu, hanya mengamati, sesekali menyeringai, senyum kecut. Jika bicara soal maknyah, Long Kasem orang seribu lebih paham tentang maknyah. Apalagi bahas (isi) rok. Demikian pilkada tidak hanya dalam cangkir kopi, namun sudah masuk ke dalam rok maknyah. Baik yang muda atau lebih muda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: