Nilai Kepahlawanan: Sebuah Kontemplasi

Oleh : M. Hermayani Putra La Eka

[ Kalimantan Regional Leader at WWF-Indonesia ]

Ketika ditanyakan kepada kita, siapakah pahlawan itu? Apa kriterianya? Mengapa ia disebut pahlawan? Mungkin seperti sebuah konsensus, bahwa akan keluar jawaban: mereka yang berjasa bagi nusa dan bangsa, yang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, kelangsungan hidup bangsa, yang berjuang tanpa pamrih demi kejayaan tanah airnya. Sederet pernyataan yang cenderung filosofis, simbolis, tanpa ada uraian yang jelas dan konkret.

Kondisi seperti ini tidak usah ditanyakan dimana salahnya, apa yang salah, siapa “penyebabnya”, atau komentar lain yang condong “menyudutkan” yang “empunya cerita sejarah”, karena toh tidak semua dari kriteria itu salah. Masalahnya adalah kita kadang terlalu larut oleh kerangka penilaian makro tadi, sehingga kadang luput dari tangkapan indrawi kita bentuk, nilai, semangat kepahlawanan yang ada dalam keseharian dan sering kita – tanpa sadari – jumpai.

Budaya yang tumbuh dalam diri kita – kalau mau jujur – ialah bahwa segala sesuatu selalu berorientasi ke atas, termasuk dalam konteks ini tentang nilai dan semangat kepahlawanan. Bahwa sosok pahlawan adalah putra bangsa yang karena jasanya menyandang banyak gelar perjuangan, kebangsaan, kenegaraan, ketika ia mati dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, penuh karangan bunga yang mungkin kalau dikonversikan dengan konsumsi pemakaian nasi bisa mengisi perut banyak fakir miskin, kita semua sudah mafhum. Dan saya juga tidak menyalahkan keadaan ini, walaupun kadang terlalu berlebihan.

Namun, pembaca, pernahkah kita merenung bahwa di sekeliling kita masih banyak sosok dan jati diri pahlawan yang kadang luput dari amatan bahkan perhatian kita. Artinya, abang becak pun adalah pahlawan tatkala ia relakan sang kulit disengat Mentari, sang tenaga diperas tanpa pamrih, selain mengharapkan sejumlah rupiah demi perut anak istrinya. Atau apakah karena ia juga mamang bakso, mbak bakul jamu, akang penjual kacang rebus, abah penarik sampan berada di “lapisan bawah struktur masyarakat”, sehingga tidak masuk dalam agenda besar pemikiran dan tindakan kita. Menilik dari semangat dan etos kerjanya, mereka pantas menyandang predikat pahlawan.

Jadi, jika dibandingkan dengan sang tokoh kemapanan dalam masyarakat yang penuh intrik pribadi, upeti, oportunitas, “permainan sulap kelas tinggi” dalam mencapai ketokohannya tadi, siapakah sebenarnya yang patut dihargai semangat dan etos kerjanya? Sesungguhnya, amat banyak kekeliruan dan kesalahan sejarah yang telah kita lakukan, baik sebagai warisan masa lalu maupun nilai-nilai baru yang kita suburkan kemudian. Terlalu mudah kita menjatuhkan pujian bagi figur-figur kemapanan di masyarakat dan sungguh pelit kita menghargai “orang-orang bawah” tadi yang tidak kalah nilai beritanya, bahkan lebih berdasarkan proporsinya, pada tempatnya.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kang Maman dan Novel Re-nya

Reduksi Nilai Kepahlawanan

Apakah sudah terlalu parah kondisi masyarakat kita? Rasanya: mungkin. Dikotomi nilai kepahlawanan dan pemberontakan sudah terlalu kaprah dibakukan. Artinya, siapa yang bersikap, berbicara, bertindak yang mendukung legitimasi “pihak atas”, bolehlah dikatakan pahlawan. Dan pemberontak? Terlalu mudah ditempelkan kepada sosok-sosok yang menentang keras ketidakadilan, ketidakjujuran, penyelewengan, anarki, totaliter, monopoli, yang sesungguhnya sikap berontaknya itu justru sarat mengandung muatan nilai-nilai kepahlawanan.
Kalau begitu, apakah seddang terjadi reduksi arti kata kepahlawanan? Sepertinya ya. Yang jelas, fenomena inilah yang terbius dalam diri kita.

Pesimiskah kita? Tunggu dulu, Bung. Kalau Anda pesimis, mintalah cepat-cepat malaikat pencabut nyawa untuk memutuskan “kontrak hidup” Anda di dunia ini, jangan hidup, karena sesungguhnya hidup adalah proses mencari kebenaran yang hakiki dan transedental, dan itu tersimpul pada nilai-nilai kepahlawanan dalam pengertian maha universal.

Manifestasi Nilai Kepahlawanan

Seorang “pahlawan” adalah ia yang penuh optimis memandang hidup dan kehidupan, walau dalam kondisi separah apa pun realita hidup yang dijalaninya. Ia selalu memegang teguh konsistensi nilai-nilai moralitas dan religiusitas. Kepahlawanan seseorang diuji dan ia berhasil lulus ketika menemukan sepotong onak di jalan disingkirkannya. Ketika di tempat infak, ia menabung di “rekening akhiratnya”. Ketika makan, ia tidak berlebihan, karena ingat dengan perjuangan berat si Abang Becak dalam pergulatannya mencari rezeki. Ketika ada kesempatan korupsi, ia dengan istiqamah menolaknya.

Konsistensi Nilai Kepahlawanan

Pemihakan seorang “pahlawan” pada apa yang diyakininya, apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan pembumian nilai-nilai kepahlawanannya dalam realitas sehari-hari, membawa konsekuensi lagi, pada sikap, perilaku, dan komitmen moral yang senantiasa mengagungkan kejujuran, kebenaran, keadilan, di atas segalanya. Di tengah-tengah adanya indikasi bahwa sedang terjadinya reduksi nilai kepahlawanan tadi, bagaimana baiknya agar pemelacuran nilai-nilai kepahlawanan yang maha agung itu tidak berlanjut dan kembali ke porsi ideal? Penguasa, pengusaha, ulama, rakyat jelata, sarjana, mahasiswa, karyawan, partikelir, Anda, saya, kita, mereka, punya tanggung jawab dan kewajiban moral dalam hal ini.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  D'Tour 50 Warung Kopi Pontianak

Tidak boleh ada lagi wujud pelecehan nilai kepahlawanan yang sesungguhnya adalah menyepelakan harkat dan martabat manusia — pada struktur apapun dia – sebagai makhluk Allah yang berdimensi sosial sekaligus individu. Jangan terlalu mudah bagi kita menilai negative pada sikap orang lain yang kurang sejalan dengan konsepsi kita.

Berpikirlah positif bahwa setiap kita pada dasarnya membawa nilai-nilai baik, sebelum ada gen-gen negatif yang mereduksinya, sehingga mereka sebenarnya adalah pahlawan bagi dirinya ketika ia konsisten dengan nilai-nilai kebaikannya itu. Bersikap apriori adalah musuh besar seorang “pahlawan”, kecuali apriori pada kemunafikan, penyelewengan, pemelacuran nilai-nilai hidup. Dan itu apriori pada sikap dan sifatnya, bukan pada personnya.

Bersikap demi dan atas nama “kepahlawanan” mungkin dianggap barang langka dan makhluk aneh, dalam bangun masyarakat kita yang sudah kental tercemar dengan nilai-nilai semu (dan palsu). Tapi apakah ini membuat langkah kita surut? Mudah-mudahan tidak.

Semoga masih berurat mengakar semangat, etos, dan kultur kepahlawanan yang maha agung, sehingga peringatan hari besar yang makna filosofis dan historisitasnya adalah pengukuhan jiwa kepahlawanan dan bagaimana proses “menjadi pahlawan” bukan sekadar sederetan acara seremonial dan bumbu-bumbu retorika belaka. Insya Allah.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Akcaya, 10 Nopember 1992

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: