Menikmati Keapaadaan

Lebih dari seminggu saya tak lagi menikmati pagi bersama laptop, secangkir kopi di sebelah kanan dan sebuah asbak kaca lebar setangan.

Saya mengalami keasikan bersosialisasi dengan para penggiat literasi, sastrawan, pustakawan, perupa, arsitektur muda, musisi dan pengusaha muda. Semua aktivitas bersosialisasi itu memutari event tahunan kebanggaan masyarakat Kalbar: Kalbar Book Fair.

Tak tahu kenapa energi untuk bersosialisasi dengan kaum pencipta yang tak pernah berhenti untuk memproduksi aneka hal itu membuat saya merasa lebih hidup. Saya merasa benar-benar berada di tanah air Indonesia.

Maka kalau seharian berada di arena Kalbar Book Fair yang panjangnya 150 meter itu saya suka melimpir menghampiri aneka rupa kawan. Sebentar memperhatikan para ilustrator komik mengorat-oret selembar kertas pido putih. Sebentar bersama para sastrawan, sering pula menikmati tiupan saxaphone para musisi, atau sapuan kuas kawan-kawan perupa.

Saya juga menimati saat bertukar gagasan, bertukar kata atau bahkan hanya sekedar bertukar penampakan susunan gigi dengan aneka kawan pencipta itu. Bahagia rasanya.

Saat terlibat obrolan, kita tak akan mendengar keluhan dari mereka, walaupun mereka lebih papa dari para politisi. Kita juga tak bakalan akan mendengar caci maki dari mulut mereka walau eksistensi mereka secara politis jauh lebih terpinggirkan dibanding kontraktor. Pembicaraan lebih didominasi pada hal-hal yang bisa membawa perbaikan.

Mereka, para pencipta itu juga teramat hebat di mata saya. Mereka bisa mentertawakan derita sembari tangannya mengetik tuts laptop dan menuliskan serangkaian puisi pengharum jiwa.

Mereka bisa pula menghibur kawannya yang sama-sama sedang berduka akibat tak ada uang selembarpun di saku celana, sembari menbas-nebaskan kuas diatas kanvas atau menggenjereng-genjrengkan senar gitar untuk menghibur orang-orang di sekitar.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Bang Marbot Dapat Wahyu Kunci Pagar Mesjid

Sungguh hebat mereka itu. Jiwanya tegap menjulang laksana pohon bengkirai tua yang kokoh menjolok langit. Semangat mereka membara saat berbicara tentang karya dan cipta.

Tak ada satu katapun yang terlontar tak sengaja akibat sering menyembunyikan kebusukan, sebagaimana kaum elit bergelang besi yang suka lepas kata secara tak sengaja.

Lalu muncul bara semangat. Yang kemudian membesar menjadi api energi setelah dikipas-kipasi oleh kebersahajaan untuk menjalani hidup ini dalam lingkar keapaadaan yang mengalir dan mengairi.

Bergaulah dengan mereka saat kepala dan dadamu terasa sempit menghimpit. Setelah itu kita akan merasakan kepala kita perlahan-lahan mulai mengembang, serta rasa sesak di dada akan menyingkir secara perlahan.

—***—

Pontianak, 8 November 2017

bungben

Beni Sulastiyo. Setelah menamatkan kuliah di Yogyakarta, pria yang akrab disapa BungBen ini kembali ke kota kelahirannya, Pontianak. Sebagai seorang penulis, ia terbilang cukup sangat produktif, telah menghasilkan 4 buku. Ia juga tidak pelit ilmu, bahkan sangat senang berbagi. Ia sangat aktif mengisi aneka seminar, diskusi dan pelatihan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang keagamaan, filsafat, ekonomi, pemasaran, bisnis, kepariwisataan, industri kreatif, tulis menulis, pendidikan hingga kepemudaan. Dalam bidang teknologi informasi, ia ikut mengembankan sistem informasi berbasis teknologi internet. Ia sudah mendesain puluhan web serta sangat memahami seluk beluk dunia media sosial. Ia bercita-cita menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Digital pertama di Indonesia yang dapat menyediakan jaringan internet gratis bagi seluruh warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: