Luar Biasayah Pengacara Setnov Malah Laporkan Tiang Listrik ke Polisi

Dasar Setnov, ada aja akalnya untuk lepas dari jeratan hukum. Kali ini kabarnya, pengacara setnov malah melaporkan tiang listrik ke polisi. Padahal dalam kasus ini jelas-jelas Setnov lah yang menabrak tiang listrik. Tiang listrik jelas-jelas adalah korban.

Namun, malang nasib tiang listrik. Sudahlah jadi korban, kini ada upaya sistematik untuk mengkriminalisasi tiang listrik.

Tapi upaya untuk menuntut tiang listrik memang masih terbuka. Ada alas pikir yang jelas. Terlebih negara ini adalah negara hukum. Siapa saja harus tunduk dengan hukum. Termasuklah tiang listrik!

UU yang bisa digunakan untuk menjerat tiang listrik secara hukum mengacu pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU 26/2007).  Dengan undang-undang ini tim pengacara dapat mengkaitkan posisi tiang listrik dalam konteks tata ruang. UU No 26 itu memang mengatur persoalan ini dalam konteks tata ruang. Oleh karena itu pengacara setnov harus pintar-pintar mencari celah kesalahan tiang listrik dalam konteks tata ruang. Biar ada lasan yang maknyus sehingga pengaduan perbuatan tidak menyenangkan dapat diterima oleh aparat.

Lalu pa kira-kira upaya hukum yang dapat ditempuh oleh pengacara untuk menjerat tiang listrik? Pada Pasal 67 UU 26/2007 memuat aturan sebagai berikut:

Penyelesaian sengketa penataan ruang pada tahap pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat.

Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperoleh kesepakatan, para pihak dapat menempuh upaya penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan aturan itu jelas, bahwa apabila musyawarah untuk mencapai mufakat, maka langkah hukum dapat diajukan yaitu menyelesaikan persoalan ini lewat pengadilan. Dan saya sangat yakin langkah musyawarah itu tak akan mungkin ditempuh oleh pengacara setnov kepada pihak tiang listrik. Tapi dalam dunia politik semua tak ada yang mustahil.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kerinduan

Pontianak, Beni Sulastiyo

bungben

Beni Sulastiyo. Setelah menamatkan kuliah di Yogyakarta, pria yang akrab disapa BungBen ini kembali ke kota kelahirannya, Pontianak. Sebagai seorang penulis, ia terbilang cukup sangat produktif, telah menghasilkan 4 buku. Ia juga tidak pelit ilmu, bahkan sangat senang berbagi. Ia sangat aktif mengisi aneka seminar, diskusi dan pelatihan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang keagamaan, filsafat, ekonomi, pemasaran, bisnis, kepariwisataan, industri kreatif, tulis menulis, pendidikan hingga kepemudaan. Dalam bidang teknologi informasi, ia ikut mengembankan sistem informasi berbasis teknologi internet. Ia sudah mendesain puluhan web serta sangat memahami seluk beluk dunia media sosial. Ia bercita-cita menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Digital pertama di Indonesia yang dapat menyediakan jaringan internet gratis bagi seluruh warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: