LARA

dan nyaris saja aku tak sanggup menulis puisi
karena kata telah mati dibunuh emosi
lelaki ini terjaga dengan kekosongan murni
di perut, di jiwa, di otak, di hati nurani

berarak kesedihan mengiringi keranda cinta ini
sampai dimakamkan dan terpampang di epitaph
“di sini sebentuk kasih suci dimakamkan malam ini”
dan aku menjaga pusaranya sambil meratap

cinta telah mendahului aku
cinta telah berpulang lebih dulu
cinta telah menjadi mayat membeku
cinta telah menorehkan lagi lara dan pilu

nelangsa sungguh hati lelaki ini
ah, jangan tanya kenapa… karena kamu tahu aku benci dipaksa!

jika ini akhir, akhiri ini dengan senyuman

(yang menyaluti airmata)

Mungkin tulisan ini juga menarik...  RASA

arief

Father of Three, Suaminya Djati, Penggemar Kopi & Vespa, Juventini Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: