Kang Maman dan Novel Re-nya

Ingat Kang Maman, benak kita pasti langsung teringat pada sebuah program acara  terkenal Trans TV Indonesia Lawak Klub (ILK),  tayangan yang menampilkan banyolan segar oleh para pelawak top Indonesia, dan Kang Maman orang yang selalu sukses dalam mereview otak–otak para pelawak yang begitu susah ditebak cara dan alur berpikirnya.

Maman Suherman, yang biasa di Panggil Kang Maman ini dibalik penampilannya di ILK ternyata beliau adalah sosok seorang kriminolog dan penulis yang sangat produktif. Ia mampu menerbitkan 15 buku dalam setahun, baik itu dalam bentuk fiksi maupun non Fiksi. Dan Kang Maman juga seorang pemerhati sosial wanita, karena hampir dari buku–bukunya mengangkat fenomena dan bentuk  kejadian sosial yang terjadi terhadap wanita.

Kang Maman sangat peduli akan hal itu, dan ia menulis selalu dengan riset yang sangat dalam dan masuk ke kejadian demi kejadian sehingga menjadikan fakta dari apa yang ditulisnya begitu kongkrit dan nyata.

Kang Maman melakukan riset skripsinya tentang perdagangan prostitusi wanita  di salah satu daerah di Jakarta pada tahun 1988 s/d 1990. Dan dari riset tersebut menghasilkan 400  halaman sebuah kisah yang menggambarkan bentuk kesadisan sebuah proses prostitusi wanita. Dimana sang germo dengan mudah menghabisi nyawa si prerempuan tersebut jika dia berusaha kabur atau tidak melayani tamunya dengan maksimal.

Dalam risetnya Kang Maman  menyamar bekerja  sebagai supir di rumah prostitusi tersebut, dan fakta kejadian terlihat langsung oleh Kang Maman, bagaimana sadisnya para wanita-wanita itu diperlakukan.

Si mami (sebutan penjual wanita) dengan sadisnya menggunakan sebuah pisau cutter menyabet bahkan menikam wanita-wanita itu, dan tidak hanya wanita seluruh pekerja yang terlibat dalam prostitusi mendapat perlakuan yang sama, dan Kang Maman sendiri juga terkena dampak kesadisan tersebut, dimana di beberapa bagian tubuhnya pernah mengalami luka akibat  tusukan cutter.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Launching Buku Club Menulis IAIN Pontianak

Kang Maman  mengubah bentuk alur fakta itu dengan sebuah karya fiksi, yang berjudul RE, sebuah novel yang mengkisahkan seorang wanita  bangkit dalam memperjuangkan hak hidupnya.  Perempuan tersebut berjuang sebagai seorang pelacur lesbian demi memperbaiki nasib keluarga yang terjerat dalam problematika ekonomi.

Kisah yang sarat dengan gender, dimana seorang RE dengan begitu tegar menghadapi kisah hidupnya terjerat dalam sebuah lingkaran setan kehidupan prostitusi. Seorang wanita yang terpaksa untuk melakoni dunia prostitusi lesbian, terjebak dalam satu komunitas prostitusi yang memiliki jaringan sangat kuat dan menakutkan hingga apapun pergerakan untuk dia keluar hanya satu kata yaitu kematian.

Re memiliki seorang anak yang didapatnya dari derita  korban perkosaan, kemudian lahir dari rahimnya, dan dia tidak ingin anak tersebut diasuh langsung dari dirinya karena ia merasa keringatnya tidak layak untuk memeluk anak yang suci itu. Re berjuang keras mempersiapkan nasib masa depan anak suci itu yang saat ini adalah seorang Doktor dari perguran tinggi luar negeri.

Sebelum kematiannya Re menulis sebuah surat, agar seluruh kisah hidupnya diangkat ke permukaan dan dijadikan pembelajaran kepada dunia bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah keterpaksaan dan ini adalah sebuah entitas sosial yang perlu mendapatkan perhatian, dan tidak ada wanita yang mau melacur. Re diberitakan terbunuh dan mayatnya ditemukan terikat disuatu tiang pada sudut jalan ketika ia berusaha untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Kang Maman menceritakan seluruh kisah cerita yang begitu dramatis dan menyedihkan ini pada acara bedah buku Kalbar Book Fair (KBF) 2017, di Rumah Radangk Pontianak, pada hari Minggu, 05 November 2017. Kegiatan yang menarik perhatian pengunjung tersebut,  mengundang minat  bagi para penulis, pelajar, mahasiswa, komunitas, bahkan ibu rumah tangga yang ingin mengenal dari dekat  siapa sosok Kang Maman sebenarnya.
Kisah Re yang diangkat dari kisah nyata ini, membuat para peserta yang hadir penasaran ingin berinteraksi langsung tentang bagaimana proses dari penulisan, sampai ke kondisi anaknya (Re) saat ini, dan bagaimana konektifitas kedekatan Kang Maman dan Re.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Insan

Setelah acara bedah buku, Kang Maman melanjutkan dengan diskusi sharing pengetahuan pengalaman menulisnya bersama para penulis Kalimantan Barat, Kang Maman berpesan bahwa untuk menulis dan menjadi penulis yang baik harus memperhatikan 5 R ; Read, Riset, Reliable, Reflecting, (W)Rite.

(NDY, 06/11/2017)

endy

Endy Z. Tobing Smiling, pengasih, murah hati, penyayang dan only percaya hanya kepada 1 Tuhan??? Pernah lama tinggal di negeri antah berantah Pakistan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: