Kambing-kambing Hitam dari Pabrik

-memoar Marsinah

Mengapa seolah-olah hilang janji-janji
kata-kata penuh madu dari yang berdasi
dan yang berseragam murahan
mengapa selalu jadi korban.
Lalu meletuplah rasa ketakpuasan
mereka berdiam diri, berbaris, kegiatan mandeg
sebagai protes.
:la, upahku rendah tenagaku murah
apa jadi!
Namun, pemodal berdasi tak ambil peduli
tak ambil resiko merugi
dipanggillah centeng-centeng berseragam
dengan pentungan digenggam.
Perlawanan pun timbul, mereka balas pukul
ambulan, polisi, kemudian pemadam muncul
pabrik-pabrik sebagian terbakar kemarahan
dan siapa nanti yang akan disalahkan?
Kambing-kambing hitam itulah,
sedang kepala dibelit dasi mungkir berulah
sebab di benaknya hanya ada berapa besar
asuransi yang akan membayar.
:itulah, mengapa mereka tak mau ambil pusing
selama kami tak mogok kerja, la!
Orang-orang kecil, membayangkan akhir permasalahan
dan juga selalu berarti kesalahan yang ditimpakan
satu-persatu, dengan halus dan kasar
mereka disingkirkan, kembali terlantar.
:tanpa keahlian lain, kami hanya bisa jadi buruh
pabrik demi pabrik bersuasana muram suram
la, sampai saatnya nanti kembali jadi kambing-kambing hitam.

Bandung, 1993

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Tentang "Jaket Tebal, 8 Cerita dan Sketsa-sketsa tentang Slovakia"

arief

Father of Three, Suaminya Djati, Penggemar Kopi & Vespa, Juventini Sejati

%d blogger menyukai ini: