Joget Gaya Petarung AFC Di Konser Musik Hardcore

SANGAR TAPI SANTUN

Sudah lihat videonya? Jogetnya sangar banget yak? Saya yang pertama kali melihat cara penggemarnya menikmati musik ini mengira mereka sedang berantem pake jurus dewa mabok. Atau mungkin lebih tepat malah terlihat lagi tawuran.

Maka sepanjang berada di arena konser jantung saya berdegup kencang. Padahal kawan-kawan sudah berupaya menjelaskan ke saya bahwa memang seperti itulah cara mereka menikmati hentakan irama musik super keras itu. Wakakakaka.

Tapi lihatlah gitarisnya. Rapi yak. Juga seluruh pemain musiknya. Tak ada yang sangar sama sekali. Padahal penggemar musik ini sebagian besar kayak petarung AFC. Mukul, sradak-seruduk, nendang sana, nendang sini bahkan nendang mutar kayak kipas angin. Moshing, kalau istilah mereka.

Inilah penampilan band SECRET WEAPON pada saat Konser Buku di arena Kalbar Book Fair beberapa waktu yang lalu. Sebuah musik bergenre musik HARDCORE.

Sayapun baru tahu ada musik bergenre ini. Mendengar musik trash metal ala Metalica atau Sepultura saja sudah demikian hard bagi saya. Ini musik level kekerasannya di atas kedua grup musik itu.

Menurut Endy Zulham Tobing, pengamat musik Kalbar, musik ini sangat digemari dengan komunitas punk. Taukan komunitas punk? Itu lho komunitas yang sukanya kemana-mana jalan kaki. Senangnya hidup bergerombol, wajah dan kulitnya itam-itam, rambutnya kadang diberdirikan kayak durian, dan seringkali kulitnya berhias aneka tatto. Mereka juga sering dijumpai di perempatan-perempatan, membawa gitar kentrung untuk mengamen.

Nah, komunitas inilah yang menjadi penggemar utama musik hardcore yang dibawakan oleh band Secret Weapon. Band ini adalah band anak-anak Pontianak yang sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Mereka sering diundang untuk mengisi konser di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan sering pula manggung di Singapura dan Philipina.

Tapi di balik tarian dan penampilan anggota komunitas yang menjadi penggemar inti band ini, ternyata mereka punya perilaku yang keren. Keberjamaahan menjadi tradisi dalam komunitas itu. Jalan sama-sama, nyari uang sama-sama, ngemper sama-sama, bahkan makan dan minum dinikmati secara bersama-sama. Saya respek dengan komunitas punk ini.

Saat konser usai, kami meminta mereka yang masih memenuhi aula Rumah Radakng untuk segera turun. Dengan tanpa membantah sedikitpun salah satu orang yang (mungkin) paling dituakan dalam komunitas itu langsung berdiri. Dan semua kerumunan manusia punk yang tampak sangar itupun mengikutinya dengan serentak. Tak lebih dari 1 menit, pelataran Rumah Radakng yang semula penuh sesak oleh orang-orang yang punya tradisi joget paling sangar di dunia itu langsung sepi. Mereka langsung turun tanpa membantah sepatah katapun. Santun sekali!

Warbiyasah!

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kenapa Robo-Robo Di Adakan Di Sungai Raya?

bungben

Beni Sulastiyo. Setelah menamatkan kuliah di Yogyakarta, pria yang akrab disapa BungBen ini kembali ke kota kelahirannya, Pontianak. Sebagai seorang penulis, ia terbilang cukup sangat produktif, telah menghasilkan 4 buku. Ia juga tidak pelit ilmu, bahkan sangat senang berbagi. Ia sangat aktif mengisi aneka seminar, diskusi dan pelatihan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang keagamaan, filsafat, ekonomi, pemasaran, bisnis, kepariwisataan, industri kreatif, tulis menulis, pendidikan hingga kepemudaan. Dalam bidang teknologi informasi, ia ikut mengembankan sistem informasi berbasis teknologi internet. Ia sudah mendesain puluhan web serta sangat memahami seluk beluk dunia media sosial. Ia bercita-cita menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Digital pertama di Indonesia yang dapat menyediakan jaringan internet gratis bagi seluruh warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: