Gojeksila

Kemarin selepas mengisi kegiatan talkshow mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fisipol Untan, pulangnya saya naik Gocar. Tahu kan Gocar? Itu lho sebuah layanan ojek mobil berbasis aplikasi milik GOJEK yang baru beberapa bulan ini masuk di Kota Pontianak. Pernahkan naik Gocar?

Kalau sampai tak pernah, berarti kitak tu tadak gaul. Kalau saye alhamdulillah, sudah 2 kali pakai gocar.

Haha barok 2 kali jak, bangge?! Semprul!

Tapi memang iya, saya itu baru dua kali naik Go Car ini. Sebenarnya 3 kali sih, tapi yang pertama kali gagal, gegara salah tekan sehingga jadi re order 2 kali. Maklom, newbie, hihiii. Saat itu kedua drivernya nelpon saya. Saya pikir adek beradek, maka saya iyakan semua. Lalu dua-duanya datang. Trus saya jadi kebingungan mau pake mobil yang mana. Karena bingung akhirnya saya matikan Hp lalu ngeloyor pergi. Saya pilih naik becak ajjjah, pussing sayyah. hahaaa. Dhasar katrok!

Nah selama 2 kali pengalaman naik ojek mobil online itu saya berkesimpulan bahwa taksi online ini punya banyak kelebihan dari pada taksi biasa. Lebih murah, lebih cepat, lebih nyaman, dsb. Tapi dari sekian banyak kelebihan itu yang paling menarik adalah sikap dan perilaku drivernya yang menurut penilaian subyektif saya lebih pancasilais ketimbang taksi biasa.

Saya beberapa kali naik taksi reguler di bandara Supadio, dan merasa tak nyaman dengan perilaku para drivernya. Mereka itu taksi yang tak menggunakan argo, dan suka menetapkan harga ‘seenak perotnye sorang’.

Belum lagi sikap para driver taksi reguler itu yang seringkali bikin hati kita tak enak. Kayak menghadang kita dengan tiba-tiba saat kita baru saja keluar dari pintu kedatangan bandara. Lha kitakan jadi kaget. Mending yang ngadang itu keren, ini kumisan, brewokan, memakai cincin akik 3 biji, ada gelang akar bahar lagi di lengannya. Hahaa, meddeni!

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Pontianak Bejute Mimpi

Pernah juga saya punya pengalaman naik taksi dari bandara Pontianak ke rumah. Setelah negosiasi disepakati ongkos taksinya tak pakai argo, tapi pake nego. Biayanya disepakati Rp 75 ribu. Ya karena tak ada pilihan lain, akhirnya deal.

Lalu sayapun naik ke taksinya. Nah, sudah lima menit duduk, taksi belum jalan juga. Lalu tetiba pak sopir taksi yang juga brewokan itu memasukan penumpang baru. Tanpa permisi, ia jejalkan begitu saja penumpang baru itu di dalam taksi yang saya tumpangi. Ya udah, walaupun ga asik saya diam aja. Orang sabarkan di sayang Tuhan.

Tapi ternyata kesabaran saya bukan berbuah kebaikan. Malah datang cobaan baru. Saya harus ikutan mengantar penumpang baru itu hingga jauh ke tepian kota sebelum ia mengantar saya. Whadduh! Memangnya kita ini kernet?! Warbiyasayah!

Tapi di taksi online, hal-hal kayak gitu ga bakalan terjadi. Kita bisa ‘kawruh sakdurunge pinarah’, tahu sebelum kejadian, tentang biaya yang harus kita keluarkan. Sehingga si driver taksi online tak bisa seenaknya sendiri menetapkan harga. Dengan sistem yang dibangun lewat aplikasi itu, aneka pengalaman buruk seperti yang saya alami di atas juga tak bakalan terjadi.

Mereka tak ramah mereka tak dapat bintang. Mereka tak cepat datang, penumpangnya diembat driver lain. Mereka tak mau jemput, mereka tak dapat poin, mereka tak dapat poin, pendapatan semakin kecil. Jadi mau tak mau, para driver itu harus menjadi orang yang baik, ramah, jujur, cepat, dan tanggap.

Jadi kalau menggunakan Pancasila sebagai pisau analisis falsafah bangsa (wadow!), saya melihat para driver taksi online itu jauh lebih pancasialis dibandingkan dengan driver taksi offline.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kalbar Membaca : Sedekahkan Buku Anda Untuk Taman Baca

Pertayaannya, kok bisa sebuah aplikasi dapat membuat orang menjadi lebih baik ya? Padahal dulu seluruh pejabat di negeri ini pasti pernah ikut penataran P-4 yang minimal 100 jam itu. Termasuk juga para sopir taksi yang sudah paruh baya itu. Saya takin mereka juga tak bisa lepas dari kewajiban menghapal 36 butir pengamalan Pancasila.

Tapi hasilnya kok malah banyak yang tidak jujur ya? Bahkan korup. Sedangkan para driver taksi online yang sebagian besar berasal dari generasi Y yang tak pernah mengenal istilah BP-7, Penataran P-4, dan 36 butir-butir Pancasila itu, malah bisa lebih baik sikap dan perilakunya.

Apakah Gojek ini jauh lebih sakti dibandingkan Pancasila sehingga bisa lebih mampu memperbaiki perilaku warga negara? Apakah mungkin, kelak di kemudian hari gojek ini akan berubah menjadi GOJEKSILA, yang akan menggeser peran Pancasila sebagai falsafah bangsa, karena terbukti jauh lebih efektif, jauh lebih berdaya guna dan berhasil guna didalam memperbaiki kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara?

Hahaa, lebay!

Tak apalah, lebay kan sebagian dari iman.

—***—

Beni S, Ptk 12102017

bungben

Beni Sulastiyo. Setelah menamatkan kuliah di Yogyakarta, pria yang akrab disapa BungBen ini kembali ke kota kelahirannya, Pontianak. Sebagai seorang penulis, ia terbilang cukup sangat produktif, telah menghasilkan 4 buku. Ia juga tidak pelit ilmu, bahkan sangat senang berbagi. Ia sangat aktif mengisi aneka seminar, diskusi dan pelatihan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang keagamaan, filsafat, ekonomi, pemasaran, bisnis, kepariwisataan, industri kreatif, tulis menulis, pendidikan hingga kepemudaan. Dalam bidang teknologi informasi, ia ikut mengembankan sistem informasi berbasis teknologi internet. Ia sudah mendesain puluhan web serta sangat memahami seluk beluk dunia media sosial. Ia bercita-cita menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Digital pertama di Indonesia yang dapat menyediakan jaringan internet gratis bagi seluruh warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: