Antologi Puisi “Ayah Bangsa”

KEINDONESIAAN DALAM
“AYAH BANGSA”
Oleh: Agung Pranoto

Rosebook kembali menerbitkan Antologi Puisi Sahabat Rosebook AYAH BANGSA (2017). Di dalam antologi ini memuat 56 penyair, masing-masing 5 puisi. Ke-57 penyair merupakan nama-nama yang tak asing lagi dalam percaturan sastra maya dan beberapa nama telah masuk dalam daftar “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” yang dibidani oleh Panitia Hari Puisi 2017.

Artinya bahwa di dalam antologi puisi ini bagaikan mutiara yang berhiaskan eksotika kebhinekaan menuju satu ikatan, yakni ke-Indonesia-an.

Puisi masing-masing penyair menyuarakan sosok “ayah” dalam berbagai perspektif dan mengungkap tentang multikultur yang mengarah pada kesatuan dalam kedamaian.

Sosok “ayah” dan “kebhinekaan” menjadi kunci utama perekat benang merah dalam antologi ini. Oleh sebab itu, kehadiran antologi puisi di tengah problematika Indonesia sebagai negara multikultural, sangatlah tepat, sebagai sumbangsih penyair terhadap negara tercinta dalam menjaga harmonisasi di antara kita.

Indonesia sebagai negara multicultural memang memiliki kerentanan yang tinggi.

Oleh karena itu, semangat dan jiwa nasionalisme perlu disuarakan agar tercipta keutuhan negeri ini. Hidup secara damai dalam heterogenitas manusia di negeri ini sangatlah indah.

Antologi puisi ini merupakan suara warga bangsa yang diwakili oleh 56 penyair dari berbagai suku, agama, budaya, bahasa daerah, dan tentu menjadi “pelangi” (pinjam diksi Berti Subagija dan Indah Padmawati) yang eksotis. Kedamaian warga bangsa negeri diharapkan seperti kedamaian 56 penyair dalam ikatan antologi puisi “Ayah Bangsa” ini.

Achnas J. Emte, sebagai guru dan penceramah agama Islam, dalam puisi “Doa untuk Negeri”, sungguh memiliki pandangan dunia (world-view) yang indah dan sejuk dalam menyikapi keberagaman keyakinan di negeri ini, yakni “adalah mukjizat-Mu dalam perbedaan/yang megah dan bermaruah”.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kalbar Under Cover (Sudut Pandang Politik)

Jiwa-jiwa nasionalis juga terpancar dalam diri Agus M. Sunjaya melalui puisi “Satu Jua”, Ari Nugrahaningsih dalam puisi “Hargai Perbedaan”, Asma Dhien Hasan dalam puisi “Harmoni Negeri”, Berti Subagija dalam puisi “Pelangi di Lengkung Equator”, Chie Setiawati dalam puisi “Warna Persahabatan”, Choliza Nasution dalam puisi “Lelakon”, Defri Andi Pitopang dalam puisi “Damailah Indonesiaku”, Emi Priyanti dalam puisi “Berbagi Kasih”, Emi Suy dalam puisi “Tanah Air Mata”, Edy R Yusuf dalam puisi “Semula Tanah”, Fie Asyura dalam puisi “Di Puncak Rindu”, Hafney Maulana dalam puisi “Damai”, Har’tati dalam puisi “Indahnya Perbedaan”, Heru Widhi Handayani dalam puisi “Lebaran Tionghoa”, Indah Padmawati dalam puisi “Negeri Pelangi”, Asep Tatang dalam puisi “Asa”, dan Ira Kiswato dalam puisi “Operasi Besar”.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, ajakan yang mengarah pada kebersatuan dalam damai dapat kita cermati melalui Julia Asviana dalam puisi “Mari Kita Telanjang”, Kurniasih Sardi dalam puisi “Kebisingan Rindu”, Linda Lubi dalam puisi “Sepasang Tangan dan Kaki”, Mimin Sri Rahayu dalam puisi “Bait Doa”, Mujahid Manshur dalam puisi “Apa Kabar Kitab Suci”, Muhammad Rois Rinaldi dalam puisi “Selesai”, Nana NamiCa dalam puisi “Lihatlah dengan Nurani”, Nendah Kurmini Suwardjono dalam puisi “Langit Biru Indonesia”, Nok Ir dalam puisi “Jeda”, Nongka Marahim dalam puisi “Sebuah Pesan untuk Persahabatan”, Nurhijria Maharani dalam puisi “Jambu Air Persahabatan”, Romy Sastra dalam puisi “Kepal Tangan Ini”, Rose Marry St dalam puisi “Rasa dan Sayang”, Rosmita Ita dalam puisi “Mari Saling Berdamai”, Salimar Salim dalam puisi retoris “Adakah”, Sarifudin Kojeh dalam puisi “Kebersamaan dalam Kebhinekaan”, Srikandi Indung Sarerea dalam puisi “Dua”, Sri Margawati dalam puisi “Merenda Harapan”, S. Lestari dalam puisi “Saudara Bersa udara”, Tarra Lestarry Djoe dalam puisi “Kau Saudaraku”, Vera Maulida dalam puisi “Andai Kita”, Yenni Afrita dalam puisi “Kita Memang Beda”, Sri Wuryaningsih dalam puisi “Sahabat”, Yuli Darmawan dalam puisi “Jalan Kita”, Ujang Nurochmat dalam puisi “Walau Kau Tak Yakin”, Yusmadi Dt dalam puisi “Menjalin Persatuan”, dan Zam Q dalam puisi “Taman Negeriku”.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Tentang "Jaket Tebal, 8 Cerita dan Sketsa-sketsa tentang Slovakia"

Indra Intisa dan Imron Tohari dalam antologi ini juga mengungkap kritik sosial. Imron Tohari menyuarakan kenyinyiran negeri yang disebabkan oleh politikus busuk yang dikiaskan dengan “rakyat makan rakyat!” (puisi “Jika Kutanya Siapa Presidenmu”). Atau kritik Indra Intisa melalui puisi “Bahwa Sesungguhnya Kemerdekaan Itu Ialah Hak Segala Bangsa, dan Oleh Sebab Itu Kemiskinan di Atas Dunia Harus Dihapuskan Karena Tidak Sesuai Dengan…” menyuarakan kritik terhadap kemelaratan di negeri ini yang disebabkan oleh ulah sebagian oknum, yang begitu indah dibahasakan Indra: “dari sudut yang paling sikut”.

Kebiadaban pun disuarakan oleh Enny Maryani S. Mashamb Al Gozali melalui puisi “Sajak Petani” menyuarakan kritik terhadap nasib harga hasil panen yang terpuruk.
Selain nama-nama yang disebutkan di atas, ada beberapa nama lagi yang begitu menarik menyuarakan sosok “ayah”. Di antara mereka adalah Agon Naada melalui puisi “Ayahku Langit”, sosok ayah dipersonifikasikan dengan langit.

Juga Agus Pramono melalui puisi “Pengganti Ayahku”, Dewi Untari Suseno melalui puisi “Tak Sebanding”, Helena Andrian melalui puisi “Ayah”, Reyhan melalui puisi “Dia, Bapakku”, Rintanalinie Girinata Primanique dalam puisi “Catatan Dinding Jiwa”, Riri Dlaroza melalui puisi “Ayah”, dan beberapa nama yang tidak sempat disebut dalam tulisan ini. Sosok “ayah” yang dipandang dari berbagai perspektif, tentu saja merupakan ‘pahlawan-pahlawan bangsa’ meski tidak selalu nisannya berada di taman makam pahlawan.

Secara umum, puisi-puisi yang termuat dalam antologi ini menunjukkan karya yang berkualitas.

Rajutan diksi yang membentuk bait, dan pertalian antarbait yang membangun keutuhan teks puisi, mayoritas tidak menunjukkan sebagai penulis puisi pemula.

Justru banyak puisi yang kental, sublime, prismatis; kaya bahasa kias dengan memanfaatkan berbagai macam metafora. Dari sisi tipografi, ada di antara penyair yang mencoba kreatif mencipta puisi visualiasi seperti bentuk simetris, dibingkai dalam kotak, dan ada satu yang menarik pada puisi berjudul “Tahta” bentuk visualnya menyerupai huruf “h”. Puisi visual menata kata ke dalam bentuk huruf “h” itu secara semiotic mengandung makna yang bisa berkembang melebar dalam dunia penafsiran. Apakah puisi berbentuk “h” itu merujuk pada ‘harta’? Bisa saja antara ‘tahta’ dan ‘harta’ memiliki kesalingterkaitan.
Salam Sastra

Surabaya, 11 September 2017#Telah_terbit

 

endy

Endy Z. Tobing Smiling, pengasih, murah hati, penyayang dan only percaya hanya kepada 1 Tuhan??? Pernah lama tinggal di negeri antah berantah Pakistan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: