Afif Yang Aktif dan Arif

Pertengahan Februari 2017 adalah saat pertama kali saya bertemu dengan anak muda ini, diperkenalkan oleh Kang R. Rido Ibnu Syahrie dan Bung Apri Faqih Bintang Hilmy, di Barbor Outlet, komplek Rumah Melayu, Jl Sutan Syahrir Pontianak. “Bang, kenalkan ini Afif Al-Fariq, pimpinan Pondok Putra Al Furqan,” kata Kang Ridho waktu itu.

Setelah saling mengenalkan diri, Afif bercerita tentang kegiatan kesehariannya mengelola pondok dan beberapa kegiatan lainnya. Bayangan saya tentang pimpinan pondok pesantren yang umumnya terwakili oleh figur kyai atau ustadz kharismatik yang sudah mulai berumur, pupus ketika berhadapan dengan Afif. Lahir 24 Desember 1994 di Dusun Ambangah, Desa Bengkarek, Sungai Ambawang, Kab Kubu Raya. Berarti Desember mendatang Afif baru berusia 23 tahun. Ya, 23 tahun.

Ia menempuh pendidikan dasar (Madrasah Ibtidaiyah) di Pondok Pesantren Al Furqan, lalu lanjut ke sekolah menengah pertama dan atas (Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah) di Pondok Pesantren Salafiyah Fathul Ulum Kediri, Jawa Timur.

Setelah lulus, Afif kemudian aktif mengajar. Selain mengabdi sebagai pengajar, Afif juga termasuk produktif menulis, termasuk genre novel religi. Ia memimpin Komunitas Santri Jalanan (Sanja), menjadi Ketua Pemuda Dakwah Bengkarek, mengelola majalah Sanja dan penerbitan “MAHA”.

Dalam dunia tulis menulis, Afif sudah menghasilkan 10 karya, yakni “Mutiara Dalam Lautan Jilbab”, “Versus Pembawa Berkah 1”, “Versus Pembawa Berkah 2”, “Musafir Ilmu vs Ibu”, “Kado untuk Sahabat”, “Setan Juga Galau”, “Cepit vs Pancus”, “Cerita Sanja”, “Santri Jalanan”, dan karya terakhir yang judulnya sekilas agak kontroversial, “Assalamualaikum Setan”. Hehe.

Yang menarik lainnya, ia juga membuat terobosan di pesantrennya dengan mendirikan Badan Usaha Milik Santri (BUMS). Tujuannya, menjadikan pesantren mandiri dan para santri memiliki bekal ketrampilan dan ilmu kewirausahaan yang memadai sebagai bekal hidup pasca “diwisuda” dari pesantren. Dalam beberapa bulan ini, Afif dan kawan-kawannya mulai merintis berbagai usaha yang sudah dilakukan lewat BUMS ini antara lain menerbitkan Buku Fiqih Empat Mazhab, memproduksi kopi bubuk santri, stick singkong dan kerupuk singkong, kerajinan tas, dan pertanian berupa sayur-mayur.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Kalbar Under Cover (Sudut Pandang Politik)

Masya Allah. Padat dan panjang sekali aktivitas anak muda ini, batin saya.

Selain membina dan mengurus pondok, Arif juga aktif di berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Misalnya, ikut mencetuskan gerakan pengajian fiqih bagi ibu-ibu yang disebut Muslimatan. Ia juga mendirikan Gubuk Baca untuk Warga, dan menginisiasi gerakan Khatamul Qur’an di kalangan para pemuda di Desa Bengkarek, Sungai Ambawang, Kubu Raya.

Dalam beberapa kesempatan diskusi sambil ngopi dengan Afif, visinya dalam memajukan pesantren sebagai basis pemberdayaan umat sangat kental. Ia memimpikan terbangunnya kemaslahatan pesantren dengan cara membentuk para kader dan alumnus Al Furqan yang mandiri (santripreneur). Salah satu ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap santri, menurut Afif, adalah menulis dan jurnalisme dasar. Ini sejalan dengan peran seorang santri: sebagai penyampai pesan-pesan keilahian dan kenabian.

Selain itu, santri dan pesantren tidak boleh lepas, apalagi anti, dari interaksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Ia sering memotivasi para santrinya untuk selalu bersinergi dengan masyarakat, termasuk dalam pengembangan potensi usaha produktif di sekitar pesantren.

Ketika ditanya apa rencananya ke depan, Afif dengan semangat mengatakan, “Saya ingin menciptakan kader santri yang berakhlak mulia, punya ketrampilan sosial dalam pergaulan dengan masyarakat luas, namun tetap punya benteng kuat dalam hal beragama.”

Kemandirian pesantren dan sinergi bersama masyarakat menjadi mimpi utama Afif ke depan.

Saya tak mengira jika beberapa diskusi dan berbagi pengalaman di antara kami selama sembilan bulan ini sering ia ceritakan ulang kepada ayahnya. Selasa 7 November malam lalu, saya ditelepon ayah Afif, dan meminta saya ikut menemani Afif membangun dan membesarkan pesantren yang dikelolanya, termasuk SMA Islam Al-Fariq yang sedang melengkapi beberapa fasilitas dasar.

Mungkin tulisan ini juga menarik...  Penulis dan Seniman Adalah Jiwa Literasi

“Terima kasih Pak, saya justru sedang banyak belajar dari Afif,” tolak saya secara halus. Betul, mana pula saya punya pengalaman mengelola pesantren dan sekolah, kalau jauh dari anaknya. Namun beliau terus mendesak. Akhirnya, dengan niat ingin belajar bersama Afif, saya menerima permintaan ini.

Dari Afif, 23 tahun — persis separuh dari umur saya sekarang yang 46 tahun — saya belajar bagaimana menjadi seorang pengabdi kemanusiaan dengan menata aktivitas hidup yang berguna bagi sesama dan alam semesta raya, dengan cara-cara yang arif, simpel, konkret dengan penuh nuansa pemberdayaan.

Satu upaya yang sekarang sedang dilakukan Afif dkk di Yayasan Pendidikan Al-Furqon dalam menyelenggarakan pendidikan di SMA Islam Al-Fariq di Desa Bengkarek, Kecamatan Sei Ambawang, Kab. Kubu Raya, Kalbar adalah menyediakan fasilitas belajar yang lebih layak vafi para siswa dan siswi di SMA ini. Pembangunan dan rehab di beberapa bagian sekolah ini sedang berjalan, namun masih membutuhkan tambahan 2.250 karung pasir, 400 keping seng, dan 186 sak semen.

Bagi Bapak, Ibu, Abang Kakak dan Adik yang berkenan bergabung dan membantu gerakan ini, bantuan bisa disalurkan melalui:

Bank BRI No Rekening 795201002988539
a.n. Yayasan Pendidikan Al-Furqon

Untuk mendapat info lebih detail, bisa juga langsung menghubungi Sdr. Afif Al-Fariq di nomor telp/WA 0812-533-3309. Insya Allah barakah.

15 November 2017

M. Hermayani Putera (0811578287)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: